Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Puasa Empat Musim di Jerman – Pengalaman Puasa yang Asyik!


Artikel saya ini diterbitkan juga oleh Deutsche Welle dengan link: 

Sejak sembilan bulan yang lalu aku tinggal di Schwäbisch Hall, Baden-Württemberg. Selama beberapa bulan ini juga, aku sudah pernah merasakan puasa dengan durasi yang berbeda-beda, tergantung musim yang sedang berlangsung. Sementara satu bulan terakhir ini adalah pengalaman pertama Ramadanku (2019) dengan durasi puasa yang 'tidak normal.'

Musim Gugur

Musim gugur tahun lalu, aku masih bisa merasakan pengalaman puasa sunnah dengan durasi yang masih terbilang wajar. Misalnya pada sekitar bulan Oktober, aku bangun untuk makan sahur sekitar pukul 5 pagi dan berbuka puasa sekitar pukul 6.30 sore. Durasi puasanya sekitar 12,5 jam saja, tetapi durasi puasa ini bahkan menjadi semakin pendek seiring siang hari yang semakin menyusut menuju musim dingin.

Musim Dingin

Pada musim dingin, durasi puasa menjadi lebih menarik. Durasinya menjadi sangat pendek dikarenakan waktu gelap (malam hari) yang menjadi lebih panjang dibandingkan siang hari. Pada musim ini aku bisa santap sahur pukul 5.30 mengingat adzan subuh baru berkumandang hampir pada pukul setengah 7 pagi. Lalu pada pukul 5 sore, suasana sudah gelap, karena pada pukul setengah 5 waktu berbuka sudah tiba! Durasi puasanya hanya sekitar 10 jam saja. Seolah-olah seperti kita sarapan pagi-pagi, lalu tidak makan siang, dan baru makan saat selesai beraktivitas pada sore hari.

Musim Semi - Ramadan

Lalu bagaimana dengan puasa pada musim semi? Inilah pengalaman Ramadan pertamaku di Jerman! Ramadan tahun ini berlangsung pada musim semi dengan suhu yang masih terhitung dingin bagi orang Jerman sekalipun. Hanya pada hari terakhir puasa temperatur berubah menjadi panas seperti di tanah air tercinta.

Meskipun suhu masih terbilang dingin, tetapi tetap saja siang hari sudah lebih menguasai daripada durasi malam hari, yang sudah terpotong sekitar 5 jam dibandingkan malam hari di Indonesia. Pada hari pertama puasa, aku mengikuti salat tarawih di mesjid Turki dekat rumahku: Mevlana Moschee.

Beruntung sekali mesjid ini sangat dekat, hanya berjarak 15 menit jalan kaki saja. Tarawih di Mevlana Moschee ini dimulai tepat setelah salat isya, yaitu sekitar pukul setengah 11 malam dan berakhir sekitar pukul setengah 12.

Baca juga: Bohong - Don't Lie to Me

Pada hari pertama puasa, dengan antusias aku menyiapkan kudapan sahur agar saat bangun nanti aku hanya tinggal menyantapnya saja. Aku merebus sebutir telur dan membuat müsli (sajian sarapan outmeal khas Jerman). Lalu aku bergegas tidur dan memasang banyak alarm untuk membangunkanku pada pukul 3 atau setidaknya setengah 4, mengingat imsak sudah nyaring berbunyi pada pukul 4.16.

Namun pengalaman sahur pertamaku tidak berjalan mulus, karena aku bangun terlambat. Kudapan sahur pun aku simpan kembali di kulkas untuk keesokan harinya, yang juga tak sempat tersantap karena aku kembali bangun kesiangan. Müsli untuk sahur pertamaku baru berhasil aku santap pada sahur hari ketiga.

Dibandingkan di Indonesia, puasa di Jerman tentu saja sangat berbeda. Hampir semua orang tidak berpuasa kecuali aku, mengingat rekan kerjaku yang muslim sangat sedikit. Semua orang terheran-heran melihat aku tidak makan bahkan tidak minum sebelum matahari terbenam. Menurut mereka, setidaknya aku harus minum 😂.

Pokoknya, suasana Ramadan di sini tidak terlalu kentara. Orang-orang makan dan minum di sekelilingku seperti biasa; tidak ada yang tahu bahwa Ramadan tengah berlangsung; tidak ada tayangan komedi sahur; tidak ada yang membangunkan untuk sahur selain alarm hand phone; tidak ada kultum-kultum khas Ramadan; tidak ada pemandangan orang-orang bertilawah di berbagai sudut; tidak ada orang yang berjualan takjil; dan tidak terdengar adzan Magrib yang selalu sudah dinantikan (suara adzan tidak sampai ke rumahku).

Lalu, apalagi tantangan lainnya? Tentu saja durasi puasa yang panjang. Ifthar hari pertama adalah pukul 20.50 dan ifthar hari terakhir pukul 21.24 dengan imsak sekitar pukul setengah 4 pagi.

Namun ternyata puasa yang lama ini tidak menjadi soal bagiku. Rasa lapar dan haus masih terasa normal sebagaimana berpuasa di Indonesia. Yang menjadi masalah adalah waktu tidur yang menyempit sangat signifikan.

Setiap kali pulang tarawih, pasti saja jam sudah menunjukkan sekitar pukul setengah 12 malam. Jika aku tidak langsung tidur karena mengerjakan ini dan itu, tanpa terasa sudah tengah malam atau bahkan sudah pukul 1 pagi. Ketika aku akhirnya tidur dan bangun kembali, mataku terasa perih karena tidur yang baru berlangsung 2 sampai 3 jam saja. Setelah salat subuh, mataku selalu terasa sangat berat dan untuk menabung energi, biasanya aku tidur kembali. Jika aku tidak melanjutkan tidur, maka aku akan merasa lelah saat bekerja dari pukul 7 pagi hingga setengah 4 sore.

Baca juga: Roti, Salad, Keju: Culture Schock Makan di Jerman

Jika aku tidak tidur setelah subuh, maka biasanya aku akan tidur sepulang kerja sambil menunggu waktu asar pada kisaran pukul 5 sore. Istirahat ini sangat aku perlukan demi memulihkan tenaga untuk waktu puasa yang masih berlangsung sekitar 4 hingga 5 jam, plus harus terjaga hingga selesai tarawih pada tengah malam. Namun karena sangat lelah, terkadang aku baru bisa bangun pukul 7 atau 8 malam, meskipun alarm hapeku terus menjerit-jerit marah membangunkanku. Untung saja ketika bangun, langit masih terang benderang karena matahari belum terbenam!

Salah satu menu ifthar di Mesjid Mevlana


Ludesss

Beruntung, Ramadan tahun ini suhunya tidak panas, sehingga aku tidak berpeluh-peluh maupun kehausan. Aku juga tidak merasa sendirian, karena setiap tarawih aku bertemu banyak muslim lainnya yang juga berjuang mengerahkan sisa-sisa energi untuk mendirikan salat sunnah khas Ramadan ini di mesjid. Selain itu, setiap hari Jumat dan Sabtu, selalu diadakan buka puasa bersama di mesjid. Hidangan yang disajikan berasal dari iuran sukarela jamaah masjid. Ramai sekali orang berbondong-bondong ke mesjid untuk ifthar bersama menyantap kudapan yang sangat lezat. Mengingat ini adalah mesjid Turki, makanan yang dihidangkan pun masakan Turki yang sangat melimpah dan kaya akan daging, karbohidrat, juga salad, tak lupa juga makanan penutup yang sangat manis!

Selain buka bersama di mesjid, aku juga sering berbuka puasa bersama dengan keluarga-keluarga yang aku kenal dari mesjid. Mereka menjamuku di rumah mereka dengan hidangan berbuka yang sangat banyak dan sangat lezat. Hanya satu kekurangannya: tidak ada sambal.

Lalu, sejak jauh-jauh hari, aku meminta izin untuk tidak masuk kerja pada hari raya ‘Idul Fitri. Lebaran pertamaku di Jerman ini aku habiskan bersama kenalan-kenalan Turki yang aku kenal dari mesjid. Juga bersama hidangan-hidangan türkisch mereka yang sangat lezat dan tiada akhir.

Baca juga: Schwäbisch Hall dan Corona

Ramadan pertamaku sudah usai dengan masalah jam tidur yang menjadi persoalan utama. Namun Ramadan berikutnya akan lebih ringan karena akan dimulai di bulan April, waktu di mana durasi puasa dan durasi waktu tidur akan lebih bersahabat.

Kalau musim panas sudah hadir, aku ingin mencoba bagaimana rasanya puasa dengan durasi yang jauh lebih menantang. Mungkin aku akan harus bangun sahur pukul setengah 2 pagi dan berpuasa hingga pukul setangah sepuluh malam yang masih cerah ceria. 

Mevlana Moschee pada siang hari tanggal 1 Syawal 1440 

36 comments for "Puasa Empat Musim di Jerman – Pengalaman Puasa yang Asyik!"

  1. Gak kebayang puasa empat musim ini ya k. Apalagi dengan durasi puasa yang sangat panjang bikin tubuh lemas kalau tidak ada aktifitas yang buat semangat. Jadi membayangkan kapan bisa merasakan puasa di luar negeri hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak, biar pahalanya nambah banyak, karena tantangannya 'seru' banget 😂

      Delete
  2. Saya salah fokus sama makanannya. Haha. Masha Allah, ada aja tantangannya ya puasa di negeri orang, 4 musim pula. Semoga pahala imbalannya mba 😇 dapat pengalaman tak terlupakan pula kan, seru sekali!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, itu yang paling diharapkan, lipatan pahalanya :)

      Delete
  3. Pengalaman puasa yang seru mbak. Sebentar lagi puasa, dan ini puasa pertama saya di tempat baru, rumah kontrakan sendiri. Biasanya ada ibu yang masakin, sekarang harus masak sendiri. Saya coba masak malam.juga biar nanti tinggal angetin pas pagi.

    ReplyDelete
  4. Masya Allah hebat Mbak, berpuasa ditengah-tengah musim yang berbeda2 pasti banyak tantangannya. Tetapi senang ya karena banyak saudara seiman dan seagama yang saling membantu seperti keluarga sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, alhamdulillaah beruntung banget rasanya punya banyak kenalan dari mesjid, dari satu orang merembet dikenalin ke orang lain

      Delete
  5. Masya Allah... menarik banget mbak ceritanya. Enggak terbayang tantangan berpuasa dalam durasi waktu yang panjang. Gimana ya membagi waktu beribadah di bulan Ramadhan ketika jadi minoritas? Sholat, lalu tilawah, pasti juga menantang ya mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menantang banget, terutama kalo udah capek... tapi belum nyampe waktu buka, udah ga ada tenaga 😂 semoga pahalanya berlipat tak terhingga~

      Delete
  6. Masyaallah perjuangannya... Semoga Allah memudahkan dan memberikan rahmatnya padamu ya Mbak. Gak pake musim aja, puasa itu perlu niat yang kuat dan perjuangan juga. Apa lagi dengan kondisi di sana.

    ReplyDelete
  7. Masyaallah godaannya banyak ya puasa di luar negeri, kata teman saya yang kuliah di jerman juga gitu. dari bobo sampai bobo lagi enggak buka-buka puasa haha. giliran buka puasa makannya juga enggak bisa banyak karena cepet kenyang hihi. jadi penasaran juga mau puasa di luar negeri, seruuu keknyaa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, bangun tidur matahari masih belum terbenam 😂

      Delete
  8. Wah menarik banget pengalamannya, Mbak Alvi. Jadi kuliahnya lanjutin S2 di luar, ya? Kuliah di mana, nih? Saya lihat makanannya enak, hehe tampak menggiurkan soalnya. Puasa di luar kadang waktunya lebih lama, ya?

    ReplyDelete
  9. S2 nya malah belum,lagi ambil jalan lain dulu, ambil sekolah yang berbeda sambil cari peluang terbaik.
    Puasanya bisa lama, bisa juga lebih pendek, tergantung lagi musim apa kak

    ReplyDelete
  10. Seru ya tantangan puasa di negeri 4 musim. Semoga selalu diberi kemudahan dan keringanan dalam menjalankan ibadah puasa ya, mba, terutama ibadah Ramadhan kali ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Sama-sama kak. Terutama Ramadan ini yang mungkin gak akan ada tarawih berjamaah di mesjid :(

      Delete
  11. MasyaAllah ... Sukaaa deh mengetahui pengalaman teman-teman yang tinggal beda negara. Apalagi di negara empat musim ya, Mbak. Kebayang deh, puasa selama itu. Huhuhu ... Belum tentu aku kuat. Tapi perjuangannya jadi lebih terasa ya, Mbak. Semoga puasa tahun ini semuanya berjalan dengan lancar di seluruh dunia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Semoga tahun ini berjalan lancar di seluruh dunia... Aamiin

      Delete
  12. Wahh pasti jadi pengalaman yang menarik ya mbak..
    Btw di jerman dalam rangka apa mbak? Studi kah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak, studi, semoga tetep lancar nih di tengah-tengah pandemi

      Delete
  13. Masya Allah, menarik sekali mbak. Jadi bisa pendek dan bisa sangat panjang ya waktu puasanya. Jadi tambahan ujian tawakkal buat muslim. Menyenangkan sekali berkumpul bersama sesama saudara muslim walau berbeda-beda. Bagaimana dengan efek Corona nanti mba? Apa masjid masih dibuka?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua rumah ibadah tutup sejak akhir maret. Semoga Ramadan udah boleh dibuka lagi, biar bisa tarawih berjamaah.
      Tentang corona saya tulis di sini kak:
      https://nocheingeschreibsel.blogspot.com/2020/04/schwabisch-hall-dan-corona.html?m=1

      Delete
  14. masyaAllah seru ya mbak. apalagi musim dingin cuma 10 jeam hehe. penasaran sama bentuk musli kaya apa mbak, btw skrg corona gmn puasa di sana ya Mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Müsli itu oatmeal kak, terus dicampur yoghurt sama buah-buahan, terutama beri-berian.
      Nah kalo puasa tahun ini ga tau tuh, semoga tetep lancar dan masjidnya dibuka lagi

      Delete
  15. Masha Allah keren bgt mba pengalamannya. tantangan tersendirinya merantau d negeri yg mayoritas non muslim. smoga betah d sn mba.Ganbatte!!

    ReplyDelete
  16. Wah, warna warni ya pengalaman puasa di negeri sono. Kalo di sini mah segitu2 aja ya waktu berpuasanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada bagusnya juga kak, jadinya ga ngalamin yang puasa panjang 😂

      Delete
  17. MasyaAllah serunya mengalami puasa di 3 musim. Semoga puasa tahun ini lancar untuk kita semua ya, Kak.

    ReplyDelete
  18. MashaAllah pengalamannya bisa menarik dan penuh tantangan gini mbak. Jam buka dan sahurnya bikin penasaran, antara siang dan malamnya juga beda gt ya ternyata. Semoga Ramadhan kali ini ibadahnya lancar ya mbak :))

    ReplyDelete
  19. Wah, seru ya puasa di negara empat musim. Tantangannya berkali2 lipat. Seru juga ya lebaran bareng teman2 muslim dari berbagai negara :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang di tengah-tengah pandemi jadi lebih menantang lagi 😂

      Delete