Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Roti, Salad, dan Keju: Culture Schock Makan di Jerman


Budaya baru memang selalu menarik untuk diulik, termasuk budaya makan! Budaya makan sambil lesehan dan menggunakan tangan secara langsung tanpa sendok garpu, bagi orang Indonesia memang bukan hanya menyenangkan, melainkan juga sunnah. Namun, kebiasaan ini belum tentu dianggap biasa dan menyenangkan juga oleh masyarakat dari negeri sebrang, sebrang dunia di semenanjung besar Eropa sana. Inilah beberapa pengalaman lucu saya soal makan dan makanan di negerinya Mbah Goethe.

Saya selalu berpikir bahwa saat makan bersama orang Jerman, saya harus mengikuti tata krama makan mereka dengan baik, kalau tidak, mereka mungkin akan menganggap saya tidak sopan dan tidak tahu adab. Maka, pertama kalinya saya makan dengan mereka, saya berusaha untuk mematuhi peraturan meja makan mereka.

Saya lirik orang-orang di sekitar saya, mereka semua memulai ritual makan dengan memotong Brötchen (roti) menjadi dua bagian. Saya tiru langkah mereka. Saya potong roti saya dengan pisau: tidak berhasil, pemirsa. Rotinya alot!

Roti macam apa ini, pikir saya. Kalau dijual di Indonesia, pasti tidak akan laku. Roti kita selalu menawarkan tekstur lembut yang membuat kita tak perlu repot-repot mengunyah lama. Sementara di sini, saya merasa roti-roti itu terasa terlalu keras untuk disebut roti, terutama bagian luar atau pinggirannya. Kamu harus benar-benar sudah bangun dan melek untuk dapat memotong dan mengunyah roti.

Baca juga: Bohong - #TruthTheory

Demi menjaga citra kesopanan saat makan, saya tetap berusaha untuk membelah roti saya menjadi dua bagian dan tidak justru menggigitnya langsung. Pada akhirnya berhasil juga, tetapi roti saya tidak menjadi dua belahan yang cantik. Roti saya terbelah tidak beraturan, akibat proses pemotongan yang dipaksakan dan tidak profesional seperti orang Jerman.

Belakangan saya baru tahu, bahwa roti yang ada di Indonesia hanyalah roti bakar, bukan jenis roti yang saya santap di atas. Roti yang saya makan pertama kali di Jerman tersebut teksturnya memang tidak selembut roti tawar maupun roti sobek atau roti kasur di Indonesia. Roti ini juga mengenyangkan meskipun hanya dilahap sepotong atau dua potong saja, berbeda dengan roti tawar kita yang tidak membuat kenyang bahkan jika dimakan lima potong sekalipun!

Nah roti kita ini di Jerman disebut weißes Brot (roti putih) atau Toastbrot (roti bakar) dan tidak dikonsumsi sebagai makanan pokok. Sementara roti yang dikonsumi masyarakat Jerman secara umum sebagai makanan pokok, ada banyak sekali macamnya dan memang benar-benar mengenyangkan, berbeda dengan roti lembut kebanggaan kita!

Selain kisah roti, masih ada penggalan cerita lucu lainnya, yaitu tentang Besteck (sendok, garpu, pisau). Sebagai orang USA (Urang Sunda Asli), tentu saja saya gemar makan menggunakan tangan secara langsung. Di sini, orang makan dengan garpu dan pisau. Semua orang memang sudah tahu soal itu, tetapi mengalaminya secara langsung ternyata merepotkan juga.

Baca juga: Schwäbisch Hall dan Corona

Pada suatu siang pada pekan ketiga saya di Jerman, saya duduk di sebuah ruang makan. Saya hendak makan siang dengan empat orang lainnya yang merupakan orang Jerman. Meski hanya ada kami saja di ruangan itu, meja makan dan semua benda yang berada di atasnya ditata dengan sangat rapi dan indah. Ternyata bagi orang Jerman, meja makan itu idealnya memang harus dipersiapkan dan dipercantik dengan sangat baik, minimal ada dekorasi bunga di tengah-tengah meja yang dikelilingi dengan hidangan siap santap dan peralatan makan yang ditata rapi di depan setiap kursi.

Ketika makan dimulai, saya berusaha untuk makan dengan elegan menggunakan garpu dan pisau, bukan sendok apalagi tangan kosong. Namun pemirsa, ternyata ini menjadi agak lucu. Pisau saya tergeletak begitu saja di samping piring, saya tidak terbiasa memotong makanan terlebih dahulu, sebelum saya masukkan potongan-potongan hambar (masakan Jerman tidak sespektakuler masakan Indonesia yang kaya rempah) itu ke mulut. Saya hanya terbiasa memotong makanan langsung dengan gigi atau sendok.

Selain itu, dengan lucunya saya memperlakukan garpu di tangan kanan saya sebagai sendok! Itu saya lakukan secara otomatis, karena seharusnya sendoklah yang berkuasa di tangan kanan saya, bukan garpu. Namun, sayangnya sendok hanya akan ikut hadir di atas meja apabila santapan kita berkuah atau dibanjiri saus yang melimpah ruah.

Pada akhirnya, saya cukup bisa menikmati makan, meskipun agak kerepotan menyendoki salad dengan garpu.

Seharusnya saya menggunakan garpu untuk menusuk makanan dan selanjutnya dilayangkan ke mulut. Namun, jiwa Indonesia saya terlalu kuat hingga sampai sekarang pun saya tetap tanpa sadar memperlakukan garpu sebagai sendok.

Fungsi pisau baru saya sadari keberadaannya ketika saya lihat tetangga di depan saya memotong dan mendorong potongan makanannya ke garpu menggunakan pisau. Ya sudahlah.

Baca juga: Ustadz-ku dari Negeri Syam

Usai makan, muncul lagi keheranan saya: orang Jerman tidak repot-repot menghabiskan makanan mereka jika merasa sudah kenyang atau karena sekadar tidak mau. Mereka lebih rela membuang makanan mereka daripada harus melahap habis isi piring mereka, termasuk jika piringnya masih utuh sama sekali! Bagi saya itu benar-benar aneh! Mana bisa makanan dibuang secara percuma begitu saja?

Tidak hanya masakan, sebagian dari mereka bahkan merasa biasa saja membuang salad! Ya, itu adalah sayuran segar, saudara-saudara. Mereka hanya akan bertanya terlebih dahulu, “masih ada yang mau? Tidak ada? Semua sudah makan, bukan?“ lalu salad yang malang itu segera berakhir di tempat sampah! Selada, wortel, timun, zucchini, dan kerabat-kerabat mereka lainnya yang masih muda dan segar. Sayang sekali, membawa pulang makanan yang tak habis dimakan tidak merupakan bagian dari budaya Jerman.

Suatu kali, saya bahkan pernah melihat seorang gadis membuang sebuah apel segar dari nampan makan siangnya ke ember penampung makanan sisa. Plung, apel itu dijatuhkan begitu saja oleh pemiliknya. Saya berpikir, kalau kamu tidak mau, lalu mengapa kamu ambil apel itu tadi? Biarkan saja dia tertumpuk manis dengan kawan-kawannya! Dan mengapa dibuang, mengapa tidak dibawa saja? Seberat itukah membawa sebuah apel? Jiwa 'cinta lingkungan' saya membara.

Keheranan selanjutnya, orang Jerman tidak berbagi makanan. Saya tidak menilai orang Jerman sebagai orang yang pelit. Hanya saja, kebiasaan saling menawarkan makanan sangat jarang terjadi di sini. Berbeda dengan kebiasaan di Indonesia yang selalu secara otomatis menawarkan makanan yang kita bawa bahkan sebelum kudapan itu kita cicipi sendiri.

Berdasarkan pengalaman yang saya alami setiap hari, bagi orang Jerman berlaku asas ‘makananku adalah milikku, makananmu adalah milikmu dan kita tidak perlu saling berbagi'. Bahkan jika ada anak yang ingin mencicipi makanan yang sedang disantap guru mereka, bapak atau ibu guru mereka tidak mengizinkan mereka mencicipi sedikit pun. Mereka justru berkata, “tidak boleh, ini punyaku.“ Sungguh saya merasa itu adalah pemandangan yang lucu pada masa-masa awal saya di Jerman.

Bagi saya, jika anak-anak ingin mencicipi makanan kita, ya tidak masalah, lagipula saya tidak merasa bekas gigitan mereka menjijikan.

Baca juga: Puasa Empat Musim di Jerman

Keheranan terakhir adalah keheranan pada diri saya sendiri. Sekitar lima bulan pertama di Jerman, saya tidak bisa melepaskan diri dari belenggu nasi. Hingga pada suatu hari saya mencoba Fladenbrot atau roti pipih khas negeri-negeri Arab. Fladenbrot dijual di setiap toko Arab dan Turki di seluruh Jerman, mungkin juga di seluruh dunia, sebab orang-orang Arab tidak mengonsumsi 'roti orang Jerman' sebagai makanan pokok mereka. Roti pipihlah yang menjadi andalan mereka dan mengejutkan sekali: meskipun sangat tipis, roti ini mengenyangkan sebagaimana roti Jerman.

Setelah sekitar dua pekan membiasakan diri mengonsumsi roti pipih, akhirnya saya terbiasa dan tidak lagi mengingat-ngingat nasi! Sekarang saya mengerti mengapa bule dan orang Arab tidak kelaparan meskipun mereka tidak mengonsumsi nasi, ternyata yang terpenting adalah asupan karbohidrat, bukan menanak nasi. Tubuh kita akan berlapang dada tidak menerima pasokan nasi, jika kita membiasakan diri untuk mencerna sumber karbohidrat yang lain.

Itulah sebagian pengalaman lucu saya di Jerman. O iya, meskipun masakan Jerman bagi saya terasa hambar, ada satu (setidaknya ada satu) hidangan Jerman yang sangat saya suka dan selalu saya tunggu-tunggu: Käsespätzle. Spätzle adalah sejenis pasta khas daerah Schwäbisch. Käse berarti keju, dan Käsespätzle adalah hidangan Spätzle yang ditimbun dengan keju parut yang disajikan meleleh 😵. Lalu Käsespätzle akan disiram dengan saus bawang bombay ataupun bawang bombay goreng. Rasanya… luar biasa! 

Baca juga: Senandung Kabut Pagi (cerpen dengan multi point of view)

33 comments for "Roti, Salad, dan Keju: Culture Schock Makan di Jerman"

  1. Pengen apa dek? Käsespätzle? Minta bikinin sama gfmu ;)

    ReplyDelete
  2. Hahaha kebayang Mba bagaimana culture shock sama makanan disana. Saya pun begitu waktu pertama kali ke Eropa, pura2 stay cool waktu disajikan makanan padahal bingung ini apaan ama gimana makan'y? 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, paling nyaman pake tangan langsung. Saya pake garpu sama pisau cuma kalo makan di luar aja 😂

      Delete
  3. Hihihi, jadi ketawa sendiri saya Mbak bacanya. Menyesuaikan adat dan budaya memang tidak mudah ya, apalagi yang memang bedanya jauh. Btw tapi senang ya bisa mempunyai pengalaman di negeri orang. Paling tidak bisa menjadi pembelajaran buat kita. Salut sama Mbak Alvianti yang bisa beradaptasi tanpa meninggalkan norma kesopanan dan tuntunan agama.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, setelah beberapa lama jadi terbiasa juga Kak Ulfah. Aku emang suka sama hal-hal baru sih, termasuk budaya, walaupun hal-hal kecil, tapi jadi serasa petualangan pribadi

      Delete
  4. Aku membayangkan roti nya alot seperti karet, andaikan nggak ada orang, rotipun ditarik2 pake gigi terus, bahahaaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ga sealot itu juga sih 😂 yang alot itu permukaan sama pinggirannya, jadi susah kalo dibelah pake pisau selai.

      Delete
  5. Wiwin | pratiwanggini.netApril 20, 2020 at 4:16 PM

    Beda kota aja kadang budayanya udah berbeda, apalagi beda negara ya.. Mengikuti cerita mba Alvianti ini seru. sekaligus lucu. Entah deh kalo saya sendiri yang mengalaminya. hehehe... Yang pasti saya akan melakukan hal yang sama, yaitu melirik kanan kiri dulu, untuk tahu caranya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo gak, nanya langsung aja, perbedaan budaya justru menarik buat mereka ketahui

      Delete
  6. Gimana dengan orang muslim di sana ya? Apakah mereka makan menggunakan tangan kiri dan membuang makanan juga? Jadi ngebayangin betapa sulitnya menyesuaikan diri di negeri orang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak dong, Muslim ga makan pakai tangan kiri 😂 dan gak mubazir makanan juga.

      Justru ga sulit sama sekali kok, asyik malah kalo menurut saya 😄

      Delete
  7. Hehe lucu mbak ceritanya...
    Emang tiap negara punya budaya tersendiri ya, termasuk soal makanan...
    Btw jadi penasaran sama Käsespätzle. Spätzle
    Kayaknya yummy bgt

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenernya itu sederhana banget, cuma pasta yang dikasih keju banyak-banyak, tapi enak bangettt 😁

      Delete
  8. lucu dan seru Mba ceritanya. Jadi ingat dulu sewaktu kuliah ikut table manner, hampir sama dengan cerita di atas. Bingung pakai garpu dan pisau.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo belum terbiasa ribet yah 😂 enakan pake tangan, lesehan di tiker~

      Delete
  9. Aduh sayang banget dibuang makanannya. Mending dibagiin bagi yang ga bisa makan ya mbak. Kenapa ya roti di jerman seperti itu? 🤔 menarik sih melihat kebiasaan makan orang di negara lain. Minimal berarti meja makan harus ada bunganya dong ya, mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ga semua rotinya gitu sih kak, rotinya ada banyaaakkk banget macemnya. Yang aku coba pertama kali itu kebetulan yang pinggirannya keras 😂
      Ga harus bgt ada bunga sih, tapi biasanya emang gitu, minimal banget nya makanan sama peralatan makan ditata rapi, walaupun cuma buat makan sehari-hari keluarga tanpa ada tamu

      Delete
  10. Saya sih suka banget itu roti salad dan keju hihi. Banyak banget ya budaya luar yang tidak sama dengan kebudayaan kita k. tapi seru banget punya pengalaman tinggal di luar. Enggak semua orang punya kesempatan itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga suka banget roti, salad (buah), keju 😂

      Delete
  11. Duh, sayang banget makanan segar dibuang-buang, pasti mereka punya alasan sendiri lah ya, kenapa ada budaya yang kita orang indonesia pasti mikirnya "kenapa kok gitu?"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alasannya ya karena udah ga ada yang makan kak. Kalo di rumah, biasanya mereka bakal simpen tuh makanan yang gak abis, tapi kalo di luar rumah, mereka suka buang gitu aja

      Delete
  12. Roti alot itu aku pernah dapat. Emang alot dan kering cenderung kasar.di kulitnya ada buluk kayak tepung. Hehe,, sama mamaku di masak dengan cara di kukus dengan santan. Rasanya enak dan gak terlalu alot lagi.

    ReplyDelete
  13. bener mbak, makan roti ampe 5 juga cuma cemilan di sini. mungkin itu rahasia kenyang abis makan roti alot ya mbak. wkwk. sedih ya banyak orang mubazir di sana.huhu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sayang banget, ga tega liat makanan dibuang gitu aja...

      Delete
  14. Saya waktu itu pernah sapat pesan di WA tentabg cerita orang luar negeri yang marah pada orang Indo yang menyisakan makanan. Ternyata ada juga kebiasaan menyisakan makanan di luar negeri. Sayang banget, kalau kita mah slogannya 'sayang'. Sisa makanan anak aja dimakan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget, orang-orang banyak yang kelaparan, masa punya kita malah dibuang-buang 😣

      Delete
  15. Seru banget mbak pengalamannya, bener-bener kultur yang berbeda ya dengan kita. Aku sebagai orang yang selalu ngabisin makanan, ngerasa sedih banget pas baca bagian kebiasaan mereka yang buang makanan gitu aja, hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ga semua bule gitu sih, tapi banyak yang aku kenal yg kaya gitu...

      Delete
  16. wah menarik skali pengalamannya mba. Ternyata makanan itu faktor kebiasaaan. klu d indo kalau ga makan nasi = blm makan. roti itu cemilan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget. Dulu juga buat saya roti itu sering jadi cemilan, bukan makanan pokok 😂

      Delete