Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Salam, dari Schwäbisch Hall


Schwäbisch Hall, sebuah kota di negara bagian Baden-Würrtemberg, Jerman adalah kota yang banyak mengajariku makna kebaikan. Kota kecil yang cantik dengan bangunan-bangunan tua khas Eropa abad pertengahan ini tak hanya menyajikan pengalaman baru untukku, melainkan juga menjadi rumah keduaku.

Aku tak mengenal siapa pun ketika aku baru pertama kali tiba di kota ini, hampir dua tahun yang lalu. Kerinduanku akan rumah Allah dan saudara-saudari sesama Muslim, mengantarkanku untuk mengunjungi salah satu masjid di kota kami yaitu Mevlana Camii atau Masjid Mevlana. Dari masjid inilah aku mulai mengenal muslim-muslimah lainnya. Dari satu orang, aku diperkenalkan kepada orang lainnya dan terus berantai hingga aku memiliki lebih banyak kenalan orang-orang Muslim, dibandingkan orang-orang Jerman yang mayoritas non muslim.

Masjid Mevlana, Schwäbisch Hall. Dokumentasi pribadi.

Kebanyakan Muslim yang aku kenal di sini berasal dari Turki dan Suriah. Orang-orang Turki banyak yang sudah tinggal di Jerman hingga 3-4 generasi. Sementara orang-orang Suriah yang berada di Jerman, kebanyakan merupakan pencari suaka akibat konflik tak berkesudahan yang terjadi di tanah air mereka. Kadang, saat aku melihat anak-anak mereka asyik bermain, aku sangat bersyukur mereka berada di tempat yang aman. Tak bisa kubayangkan jika anak-anak yang lucu itu kelaparan atau ketakutan di bawah hujan bom di Suriah.

Anak-anak Suriah menerima bantuan dari Indonesia melalui Dompet Dhuafa. Sumber: Dompetdhuafa.org (http://dompetdhuafa.org/id/berita/detail/Indonesia%20AID%20Mendarat%20Di%20Suriah)

Aku sangat suka bergaul dengan mereka. Rasanya betul-betul seperti dengan keluarga sendiri. Mereka bahkan menganggapku sebagai adik atau anak perempuan mereka! Membuatku merasa seperti di rumah saja. Persamaan ajaran agama yang kami miliki juga membuat ikatan batin kami semakin kuat.

Baca juga: Tips Kuliah di Jerman Melalui Au Pair

Tinggal jauh dari keluarga, tidak membuatku kehilangan perhatian dan kasih sayang. "Keluarga-keluarga-"ku di Schwäbisch Hall tak pernah bosan memperhatikanku. Mereka juga banyak sekali berbagi berbagai hal denganku, baik materi maupun kehangatan keluarga.

Pada suatu hari sebelum musim dingin, seorang ibu-ibu Turki di masjid tiba-tiba memberiku uang 20 Euro. Dia baru saja diperkenalkan kepadaku oleh kenalanku yang lain. Aku hanya bisa berdiri kebingungan sambil memegang selembar uang itu.

Tidak lama setelah itu, musim dingin tiba. Aku tak sempat membeli jaket musim dingin pertamaku. Bukan karena aku tak punya waktu, melainkan karena aku sudah memiliki persediaan jaket tebal. Dua orang kenalanku yang merupakan orang Turki sengaja membelikanku jaket musim dingin yang cantik dan hangat. Jika kukenakan, badanku tenggelam di dalam jaket-jaket tebal itu.

Saat musim dingin terus berjalan, seorang kenalanku yang lain yang berasal dari Suriah tiba-tiba menyodorkan sebuah amplop kepadaku, "shadaqah," ucapnya. Kami baru saja membicarakan tentang studi, beasiswa, dan kendala finansialku pada hari sebelumnya, mungkin itu sebabnya? 🤔 Meskipun aku menolak, tapi dia tidak menggubrisku dan hanya menyerahkan kembali amplop itu kepadaku dengan santainya. Ketika amplop itu aku buka, 50 Euro. Itu nominal yang besar buatku!

Baca juga: Ausbildung - Sekolah Gratis di Jerman dengan Uang Saku

Pada kesempatan yang lain, seorang ibu muda dari Damaskus yang sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri juga menghadiahiku uang selembar 50 Euro! Gaji pertama dari percobaan mini job-nya, katanya. Ada apa dengan orang-orang ini dan 50 Euro?

Lalu pada suatu hari ketika aku sedang berada di masjid, kenalanku yang lain yang berasal dari Maroko tiba-tiba menghampiriku dan berkata, "Schwester, kamu mendapatkan kupon belanja 50 Euro di toko Arab di pusat kota."
"Hah?" balasku.
"Kamu tinggal pergi saja ke toko itu lalu berbelanja kebutuhan sehari-hari sesukamu hingga 50 Euro," jelasnya tanpa memedulikan keherananku.
"Apa? Dari siapa?" tanyaku.
"Kamu tidak perlu tahu, Schwester, yang memberimu kupon tidak memerlukan kamu untuk tahu. Dia hanya minta agar kamu mendoakannya." Kali ini, uang 50 Euro aku terima tidak dalam bentuk selembar uang.

Sekitar tiga bulan kemudian ketika kupon belanja gratisku sudah habis, aku pergi ke toko Arab untuk berbelanja. Toko itu milik seorang Arab dari Irak. Saat aku hendak membayar, kasir di toko itu menolak uang yang aku sodorkan. "Tidak perlu, kamu punya kupon yang baru," ucapnya.
"Hah? Lagi?" tanyaku.
"Iya, untuk persiapan Ramadan (2019)," jawabnya.

Baca juga: Senandung Kabut Pagi

Apa orang-orang di sini kebanyakan uang? Bukan, tentu saja, mereka hanya ingin beribadah dengan cara berbagi, menebar kebaikan. Atas kasih sayang Allah melalui mereka, kantongku yang super tipis seringkali terselamatkan.

Pada bulan Ramadan, ketika aku hendak membayar zakat, aku kesulitan menemukan mustahiq di sini. Semua keluarga yang aku kenal hidup berkecukupan. Alhamdulillaah, keluarga-keluarga Muslim yang aku kenal, termasuk yang merupakan pencari suaka dari Suriah, juga tidak menjadi mustahiq di sini.

Lalu aku berpikir untuk menyalurkan zakatku ke tanah air saja. Namun kemudian aku baru ingat, ada pasangan muda yang aku kenal tak lama sebelum Ramadan. Mereka adalah mualaf asal Makedonia yang baru saja masuk Islam. Dari teman-temanku di masjid aku mengetahui bahwa mereka sangat membutuhkan bantuan finansial. Akhirnya, mustahiq itu kutemukan juga.

Kisah lembaran uang Euro-ku tak berhenti sampai di situ, kadang jika aku pergi berbelanja dengan kenalan-kenalanku, mereka membayarkan belanjaanku. Jika tidak, mereka memasukkan kurma, biskuit, cokelat, atau yang lainnya ke dalam kantong belanjaanku, mereka yang membayar, tentu saja.

Baca juga: Ustadz-ku dari Negeri Syam!

Begitu juga jika aku berbelanja di toko Arab, pemilik toko senang sekali memberiku potongan harga meskipun sudah kubilang tidak perlu. Orang-orang di kotaku ini sangat suka menebar kasih sayang. Mereka menebar kebaikan kapan pun dan di mana pun mereka berada, selama ada kesempatan! Biar Allah saja yang mencatat dan menghitungnya. Aku benar-benar merasa memiliki keluarga baru di sini, tak kalah hangatnya dengan keluargaku di Indonesia.

Bahkan untuk merayakan 'Idul Fitri dan 'Idul Adha (2019) pun aku memilih untuk menghabiskan waktuku bersama mereka. Bersama keluarga Schwäbisch Hall-ku. Tapi untuk 'Idul Fitri tahun ini, aku tak tahu. Semoga saja peraturan physical distancing dicabut dan pandemi Corona sudah berakhir. Agar aku bisa mengunjungi keluarga-keluargaku lagi. Ya, di sini, di kota kami, Schwäbisch Hall, Germany.

Lalu, bagaimana dengan kabar keluarga kalian?

Kutitipkan salam melalui bebungaan musim semi di Kota Hall :)


#Zakat #KebaikanBerbagi #MenebarKebaikan #LombaBlogMenebarKebaikan

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa (DompetDhuafa.org)."

43 comments for "Salam, dari Schwäbisch Hall"

  1. Replies
    1. Linuhung panjang sekali komen Anda 💞

      Delete
    2. Allah Maha besar, indahnya berbagi kebaikan. Jika saja setiap kota seperti itu, semoga keberkahan turun pada mereka semua. Aamiin.

      Delete
  2. mantapp.. cerita yang inspiratif fi

    ReplyDelete
  3. Masyaallah. Indahnya Islam di tanah eropa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seluruh dunia adalah tempat kita bersujud kepada-Nya. Alhamdulillaah cahaya Islam ada di mana pun

      Delete
  4. Islam adalah ajaran yg mengajarkan kebaikan dan kepedulian. Jika semua muslim di dunia ini memiliki sifat yg sama seperti di kisah itu, maka tak akan ada lagi muslim yg kekurangan krn semuanya saling berbagi. Beautiful..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget. Saya juga salut banget sama mereka, gak hitungan buat berbagi apa pun, pokoknya beramal 🙁❤

      Delete
  5. Pengen nyusul ke Jerman😢
    Selalu kebawa suasana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo sini ntar saya kenalin sama orang-orang sini 😁

      Delete
  6. masyaAllah indahnya kisah kasih sayang diantara sesama muslim di Schwäbisch Hall. semoga bisa menginspirasi ke semua saudara-saudara kita di seluruh dunia..
    oiya, jadi penasaran pas kak Alvi make jaket2 tebal itu.. hehe
    salam dari Seyegan, Jogjakarta

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya jadi keliatan ndut Kak 😂 jaket nya tebel banget.
      Salam juga. Dulu saya juga tinggal di Jogja waktu masih S1

      Delete
  7. Harapan yang terpendam kembali menampakkan sinarnya setelah membaca dan merasakan suasana yang ada di dalam tulisan, yaitu di tanah perantauan luar negeri. Semoga saya bisa menyusul kesana kak..... Semangat berbagi tulisan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada banyak jalan menuju Roma... Ikhtiar, doa, tawakkal, pasti bisa! Rumus jadul yang selalu ampuh 😊

      Delete
  8. Muslim jerman keren ih...emang kebahagian yang paling bener2 bahagia ya ituuu bikin bahagia orang lain...��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menyayangi orang lain sebagaimana kita menyayangi diri sendiri ❤

      Delete
  9. MashaAllah keren kak.. Sangat menginspirasi :) Ternyata dunia tidak kekurangan orang orang baik yang suka berbagi yaah.. Dan berbagi, justru disitulah letak kebahagiaan kita sebagai seorang manusia..

    Wah.. Jadi dr cerita kk hasrat berbagi jadi semakin tinggi.. Benar bahwa kebaikan itu menular ya kak :)

    Salam kenal ya sebelumnya kak, aku Ajeng dr Lampung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal Ajeng 😊
      Betul banget, menular, setelah diperlakukan sangat baik oleh orang lain, jadi lebih bersemangat lagi buat melakukan dan menyebarkan hal yang sama kepada yang lainnya...

      Delete
  10. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  11. Sangat menginspirasi, semoga sukses studinya :)

    ReplyDelete
  12. Mantap mbak, semangat disana. Semoga covid 19 segera berakhir diberbagai belahan dunia.☺

    ReplyDelete
  13. Kental banget Vi kekeluargaan sesama muslimnya. Dan Alhamdulillah... Allah menempatkanmu berada di tengah-tengah mereka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillaah. Aku juga bersyukur banget nuy. Allah selalu Mahatahu yang terbaik buat kita.

      Delete
  14. Wah beruntung sekali bertemu masjid dan keluarga muslim di Eropa. Tidak semua kota memiliknya. Good luck vi!

    ReplyDelete
  15. Sangat indah dan menyejukkan kesadaran jiwa berbaginya. Luar biasa dan menginspirasi. Kita wajib punya generasi berikutnya berbagi ini. Love u Alvianti, saya nantikan kisah kisah inspiratif anda selalu. Hugs from Purworejo

    ReplyDelete
  16. keren sekali mbak, tetap semangat berbagai meski di negeri rantau

    ReplyDelete
  17. MasyaAllah.. May Allah bless you all.. Aamiin
    Kunantikan crita2 inspiratif lainnya, Alvi😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Silakan rajin main ke sini, saya share cerita-cerita seru lainnya 😍

      Delete