Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tips Kuliah di Jerman Melalui Au Pair



Salam para pejuang ilmu, para pemburu beasiswa, para penerus bangsa ❤,

banyak di antara teman-teman semua yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri, khususnya ke Jerman 'kan? Saya mau berbagi informasi seputar itu nih ๐Ÿ˜‰ silakan dibaca dan dicerna...

Saya awali dengan sedikit cerita ya. Saya punya banyak sekali teman SMA dan kuliah yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri. Tapi, banyak yang tidak proaktif. Cita-cita mereka hanya sekedar angan-angan di kepala, tetapi tidak pernah diseriusi untuk direalisasi. Contohnya nih, ada seorang teman saya yang ingin melanjutkan kuliah ke Oxford, tetapi saya tidak pernah melihat dia belajar Bahasa Inggris sekalipun, padahal dia tidak dapat berbicara bahasa Inggris. Bagaimana dia bisa sampai ke Oxford kalau bahasanya saja tidak dia pelajari. Saya rasa orang-orang di Oxford tidak berbahasa Indonesia, apalagi Sunda, maka solusinya... pelajarilah bahasanya ๐Ÿค—.

Baca juga: Roti, Salad, dan Keju: Culture Schock Makan di Jerman

Lalu, seberapa proaktif saya dalam mewujudkan rencana studi lanjut saya? Saya akan mengemukakan semua tips berdasarkan perjalanan pribadi saya sendiri, lalu saya akan beri tahu kalian jalan yang bisa diikuti, yang tidak bisa diikuti, dan jalan alternatifnya :)

Siap? Tarik napas dalam-dalam... Ambil pulpen dan kertas, bismillaah...

Tenang, semua ada jalannya...

Setelah saya lulus SMA tahun 2013, saya melanjutkan kuliah melalui jalur SBMPTN. Saya berkuliah di Universitas Negeri Yogyakarta jurusan Pendidikan Bahasa Jerman. Sebetulnya saya ingin mengambil jurusan sastra murni, sastra apa pun itu, sastra Jerman, Rusia, atau Inggris. Namun karena saya diterima di jurusan pendidikan, ya sudah saya nikmati saja, lagi pula mata kuliah sastra tetap saya dapatkan di semester lima dan enam (yah, cuma dikit sih, secuil ๐Ÿ˜‚).

Ketika mulai mengerjakan skripsi di semester delapan, saya baru memiliki keinginan untuk melanjutkan studi S2. Dan... karena di S1 saya hanya mendapatkan mata kuliah sastra secuil saja, maka saya ingin studi S2 saya adalah sastra murni.

Sembari bimbingan skripsi, saya sering mendiskusikan keinginan saya untuk lanjut S2 dengan dosen pembimbing saya. Saya mendapatkan dukungan yang sangat besar dari beliau. Beliau menunjukkan berbagai kemungkinan untuk saya melanjutkan studi. Awalnya beliau menawarkan saya untuk studi sastra di salah satu kampus yang menurut beliau sastranya adalah yang terbaik di Indonesia saat ini. Tapiii saya tidak mauuu, saya menyanggah pendapat beliau, "kalau saya kuliahnya di Indonesia lagi, kapan Bahasa Jerman saya jadi bagus? Nanti saya malah pintar Bahasa Jawa, saya nggak tertarik..." ๐Ÿ˜‚ "Saya mau lanjut di Jerman," ucap saya secara tegas ๐Ÿ˜ฌ

Baca juga: Bohong - #MyTruthTheory

Setelah tepat empat tahun kuliah, akhirnya saya lulus dan mulai merencanakan rencana S2 saya dengan lebih serius. Saya cari peluang untuk sampai ke Jerman. Saya bisa saja mendaftar LPDP atau jenis beasiswa apa pun, tetapi... saya lebih memilih untuk tiba saja dahulu di Jerman lalu memantapkan Bahasa Jerman saya, barulah mulai kuliah.

Mengapa begitu? Karena untuk berkuliah dengan bahasa asing sebagai bahasa pengantar, maka kalian harus mahir bahasa tersebut agar perkuliahan berjalan dengan lancar. Untuk kuliah yang berbahasa Inggris saja, skol minimal IELTS adalah 5,5 - 6,5, 'kan? Nah, Bahasa Jerman pun memiliki standar yang sama. Apalagi waktu itu saya masih lebih pede berbicara menggunakan Bahasa Inggris (nggak bagus juga sih) daripada Bahasa Jerman, karena Bahasa Inggris saya memang lebih sering saya pakai dibandingkan bahasa Jerman. Untuk berbicara dalam Bahasa Jerman, saat itu saya masih harus berpikir, sementara dalam Bahasa Inggris saya bisa lebih spontan. Maka dari itu, agar tidak merana ketika kuliah, saya tidak langsung mendaftar kuliah maupun beasiswa.

Buat kalian yang punya 'uang,' kalian bisa langsung terbang ke Jerman untuk mengikuti sekolah bahasa intensif. Kalian bisa menggunakan visa persiapan studi yang berlaku untuk satu tahun, ini cukup untuk belajar bahasa secara intensif dan Studienkolleg (bagi calon mahasiswa S1) serta mendaftar kuliah ke berbagai universitas, baik itu kuliah Strata 1, Strata 2, maupun Strata 3. Syaratnya, kalian harus memiliki uang di rekening (block account) sebesar 10.236 Euro atau kira-kira 163.776.000 Rupiah ๐Ÿ˜Š. Banyak yah.

Memang buat apa sih itu? Itu bukan biaya kuliah guys (kalo biaya kuliah justru murah meriah kecuali di Ba-Wรผ dan NRW), itu uang deposit untuk kalian hidup per bulan. Pemerintah Jerman mengestimasikan biaya hidup bulanan mahasiswa adalah 853 Euro. Ini terhitung sangat tinggi, padahal biaya hidup saya saja jauh dari segitu lho. Lalu mengapa pemerintah menetapkan angka setinggi itu? Karena pemerintah Jerman tidak mau ada mahasiswa asing yang kehabisan uang lalu berbuat kriminal untuk bertahan hidup.

Tapi kenapa harus setinggi itu? Karena standar negara Jerman itu sangat tinggi, berbeda dengan standar Indonesia. Saya rasa dalam standar Jerman, makan hanya telur ceplok adalah suatu kengerian dan pelakunya berpotensi melakukan tindak kejahatan agar dapat makan 'secara layak sesuai standar orang Jerman.' Hal semacam ini juga dipandang sebagai masalah sosial (bagi kita mungkin bukan, selama masih bisa makan meski seadanya, ya tidak apa-apa). Di Jerman, warga negara yang tidak mampu secara finansial, dapat mengajukan bantuan kepada dinas sosial untuk memperoleh tunjangan sosial. Besarannya bantuan ini bergantung pada seberapa besar orang (atau keluarga) tersebut memerlukan bantuan. Oleh karena itu, negara harus mengeluarkan uang. Itu jugalah yang ingin mereka hindari.

Maka dari itu, tebalkan rekening kalian, agar jalan menuju studi di Jerman menjadi mudah. Ini adalah jalan yang paling mudah, hanya saja kalian harus melirik isi kantong ๐Ÿ˜€ buat saya yang bahkan kantongnya kosong, ini bukan tip yang cocok ๐Ÿ˜‰

Baca juga: Masjid Pertama dan Guru Ngaji Baru

Nah... buat kalian yang kantongnya kempis seperti kantong saya, bisa ikuti cara berikut ini. Cara ini hanya cocok diikuti untuk calon mahasiswa S1 dan S2, sebab S3 biasanya sudah agak terlalu tua untuk mengikuti jalan ini hehe. Nanti kalian akan tahu mengapa begitu.

Hinggap di Jerman dengan kemampuan bahasa yang belum memadai, lebih penting lagi: dengan isi kantong yang kosong melompong, bukanlah sesuatu yang mustahil. Tapi bagaimana caranya? ๐Ÿ˜ข Kalian bisa mengikuti program au pair! Pernah dengar tentang au pair? Au pair adalah program yang diikuti oleh anak-anak muda (biasanya maks. usia 27 tahun) dari seluruh dunia, baik perempuan maupun laki-laki. Durasinya sekitar enam bulan hingga satu tahun. Dan sertifikat bahasa yang harus dimiliki, minimal A1 saja. Itu adalah level bahasa paling dasar dan sangat mudah, guys.

Kalau kalian sudah lulus ujian Bahasa Jerman A1, kalian sudah bisa mendaftar au pair. Lalu, au pair itu ngapain? Seseorang yang mengikuti program au pair akan tinggal di sebuah keluarga (host family/Gastfamilie) dan bertugas membantu mengurusi anak-anak keluarga tersebut. Au pair adalah program pertukaran budaya, bukan menjadi 'pembantu' rumah tangga.

Kalian bisa mencari calon host family kalian di aupairworld.com. Kalian bisa mencari keluarga sesuai dengan kriteria kalian, misal: tidak merokok, tidak memiliki hewan peliharaan, vegetarian, jumlah anak yang dimiliki, dst. Kalian juga bisa memilih calon host family dari berbagai negara, tidak hanya Jerman! Jika sudah menemukan calon host family, kalian bisa membuat kontrak kerja. Kontrak kerja di antaranya berisi: tugas kalian di dalam keluarga tersebut (biasanya au pair diminta untuk membantu tugas rumah tangga yang ringan), durasi kerja (5-6 jam per hari dan libur di akhir pekan), besar uang saku (260 Euro per bulan), dan lain-lain.

Host family menanggung asuransi au pair mereka dan bahkan wajib juga membayar sebagian biaya les bahasa! Benar sekali, teman-teman, les Bahasa Jerman di Jerman! Namun host family hanya wajib memberikan 50 Euro saja untuk les bahasa au pair mereka, sementara biaya les Bahasa Jerman dengan dua kali pertemuan per pekan harganya sekitar 105 Euro. Lalu, kalau kursus intensif, biayanya berapa? Sekitar 250 Euro.

Baca juga: Skripsi Tanpa Sahur

Jangan berkecil hati, coba diskusikan dengan calon host family kalian, siapa tahu mereka mau menanggung biaya kursus Bahasa Jerman kalian. Kalau tidak bisa, investasikanlah uang saku kalian untuk sekolah bahasa ya. Kalau kalian tetap ingin sedikit menabung, maka ikutiah les bahasa yang hanya dua kali pertemuan saja per pekannya, karena biayanya lebih murah, lalu banyak belajarlah di rumah dan praktikkan dengan host family kalian.

Tip saya jika kalian ingin mengikuti program au pair, diskusikan segala hal dengan calon host family. Setiap keluarga memiliki peraturan yang berbeda-beda. Ada keluarga yang mau membiayai sekolah bahasa au pair mereka, ada juga yang memberikan kartu transportasi gratis bulanan sehingga kalian bisa jalan-jalan keliling kota, ada juga yang membayarkan biaya pembuatan visa, bahkan ada keluarga yang mau membayar biaya pesawat kalian dari Indonesia menuju Jerman ๐Ÿ˜Š. Pokoknya tanyakan semua hal dan diskusikan.

Au pair bisa kalian ikuti secara mandiri seperti langkah di atas, atau juga melalui agen au pair yang ada di Indonesia. Sebagian orang lebih merasa aman untuk menggunakan jasa agen, agar mendapatkan keluarga yang baik. Namun... perlu dicatat, pada kenyataannya ada juga au pair yang mendapatkan keluarga yang tidak baik meskipun sudah memakai jasa agen. Sementara itu... banyak juga au pair yang berusaha sendiri dan mendapatkan keluarga yang baik sesuai harapan. Saya mengenal teman-teman yang beruntung semacam ini.

Jika kalian ingin menggunakan jasa agen, pilihlah agen yang sudah terbukti terpercaya. Jangan mau untuk membayar mahal pada agen hanya untuk au pair, lebih baik uangnya ditabung! Di luar sana ada banyak agen au pair yang memeras uang calon au pair lho. Sang calon au pair tidak tahu apa-apa tentang Jerman dan tetek bengeknya, dan berakhir membayar puluhan juta untuk ini itu ๐Ÿ˜ž.

Baca juga: Ustadz-ku dari Negeri Syam

Ketika kalian sudah sampai di Jerman, carilah kenalan orang Indonesia sebanyak-banyaknya. Orang Indonesia senang untuk saling membantu. Apalagi bertemu di luar negeri, langsung terasa seperti keluarga meskipun baru kenal ๐Ÿ˜Š. Jangan lupa juga untuk mencari kenalan-kenalan lainnya yang seagama. Bagi kalian yang Muslim, saudara-saudari seiman bisa ditemukan di seluruh Jerman di semua kota. Sangat mudah untuk menemukan orang Islam di Jerman saat ini. Orang Turki dan Arab ada di mana-mana, guys.

Begitu juga dengan masjid, setiap kota biasanya memiliki minimal satu masjid. Di kota besar biasanya ada beberapa masjid: masjid Turki, masjid Arab, masjid Bosnia, dll. Jika masjid terdekat jaraknya jauh dari tempat tinggal kalian, kalian bisa mengunjungi mesjid tersebut pada akhir pekan dan bertemu dengan saudara-saudari Muslim lainnya. Dan, meskipun berbeda bangsa dengan mereka, tetap terasa seperti saudara lho, sebab terikat satu agama ๐Ÿ˜Š. Sesama orang Muslim juga senang saling membantu. Asyik pokoknya, perluas tali silaturahmi kalian dan temukan keluarga-keluarga baru di sekitar kalian.

Dengan memiliki jaringan silaturahmi yang luas, jika terjadi apa-apa, ada banyak orang yang siap membantu kalian karena mereka mengenal kalian. KBRI dan KJRI juga selalu siap untuk membantu kita jika terjadi apa-apa. Berikut adalah kontak KBRI Berlin, kontak KJRI Hamburg, dan kontak KJRI Frankfurt am Main.

Oh iya, sebagian dari au pair sangat beruntung lho, mempunyai host family yang bahkan mau untuk menjadi penanggung jawab finansial mereka untuk kuliah! Sehingga, mereka tidak perlu memiliki rekening gendut berisi >10.000 Euro. Dengan berbekal kerja sambilan, mereka sudah bisa menghidupi diri sendiri dan biaya kuliah yang hanya sekitar 150-400 Euro per semester. Biaya ini berbeda-beda sih setiap universitas, tapi memang cenderung murah bos. Kecuali di negara bagian Baden-Wรผrttemberg dan Nordrhein-Westfallen, di dua negara bagian ini, mahasiswa asing harus membayar 1.500 Euro per semester... Tenang, masih ada empat belas negara bagian yang lain kok.

Baca juga: Warna-warni 2018: Jogja - Sukabumi - Schwรคbisch Hall

Oh iya, jangan tiba-tiba menanyakan kesanggupan host family kalian untuk menjadi penanggung jawab finansial studi ya ๐Ÿ˜‚ Tidak semua keluarga merasa mau membantu begitu saja orang asing yang tinggal di rumah mereka selama satu tahun. Jika selama au pair kalian menemukan teman yang sangat baik yang sudah bekerja dan mau jadi penanggung jawab finansial kalian, atau mau meminjami kalian uang 10.000 Euro, atau patungan antara beberapa orang, itu juga bisa jadi pilihan bantuan dan bisa kalian bayar per bulan dari uang kerja sambilan. Capek dong yah, kuliah sambil kerja. Hidup memang capek, istirahat itu nanti di akhirat ๐Ÿ˜Š begitu kata Ustad Adi.

Banyak kok mahasiswa yang kuliah sambil bekerja, kamu bukan akan menjadi satu-satunya. Lagipula waktu kerja untuk mahasiswa terbatas, hanya sekitar 9-10 jam per pekan, kalian tidak diperkenankan bekerja lebih dari itu. Saya juga mengenal beberapa teman yang kuliah sembari kerja di sini. Mereka baik-baik saja. Mereka tetap bisa belajar dengan prestasi yang baik dan lulus tepat waktu, atau agak telat sedikit, atau banyak ๐Ÿ˜‚ di sini, lulus kuliah tepat waktu adalah sebuah kemewahan ๐Ÿ˜‚.

Itulah salah satu cara untuk kuliah di Jerman: melalui au pair. Bisa juga melalui cara yang lain yang menurut saya bahkan lebih menarik lagi, dan ini jugalah jalan yang saya pilih: yaitu FSJ. Apa itu FSJ? Mengapa menurut saya itu lebih menarik dari au pair? Silakan baca di sini. Alurnya sama, kalian bisa mengikuti les bahasa selama FSJ. Setelah selesai FSJ, kalian bisa lanjut kuliah. Bagaimana kalau sehabis au pair atau FSJ masih ingin memantapkan bahasa Jerman? Bagaimana dengan beasiswa? Tunggu post selanjutnya ๐Ÿ˜Š.

Baca juga: Warna Keenam: Jakarta - Frankfurt am Main - Stuttgart

41 comments for "Tips Kuliah di Jerman Melalui Au Pair"

  1. Terima kasih untuk inspirasinya, mbak. Saya baca sambil sedikit membayangkan situasinya. Pasti ngga mudah untuk berada jauh dari keluarga. Tips dan sharing mbak akan sangat membantu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perjuangan memang ga ada yang mudah :) ada ataupun tanpa keluarga. Semoga infonya bermanfaat ya

      Delete
  2. Selalu senang menyelami tulisan yang begini ini��, meskipun memang sudah tidak ada niatan kesana karena memang umur sudah tak lagi muda��, tapi dengan membaca artikel ini setidaknya saya tahu kalaupun ada informasi yang dibutuhkan oleh saudara. Thankiss mbak ��♥️

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga senang bisa berbagi informasi ❤
      Kalau ada pertanyaan apa pun, boleh tanya saya langsung kak :)

      Delete
  3. Wow, ternyata butuh modal besar ya, untuk bisa bersekolah di jerman. Luar biasa

    ReplyDelete
  4. Untuk mencapai cita2 pasti jalan yg d tempuh gak mudah ya mba. Serupa dgn pengalaman saya yg dulu pengen sekolah lagi di UK, tapi Allah seperti'y punya rencana lain jd saya di Indo aja ni ampe skrg. Wkwk..

    Semoga nanti anak2 saya ada yg bisa sekolah sampai ke negeri seberang. Aamiin..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak apa-apa, karena rencana Allah pasti yang terbaik. Insya Allah.
      Aamiin...

      Delete
  5. Terimakasih infonya, lengkap banget. Jerman jadi inget masa kecil. Dulu ikut ayah yang tugas di sana, masih zamannya Jerman terbagi Barat & Timur. Kami tinggal di Bonn, dulu ibukota Jerman Barat. Duuuh...zaman kapan itu...Semoga sukses yaa Mbak...

    ReplyDelete
  6. Wah udah lama sekali ya Bu.
    Terima kasih. Sukses juga ibu, aamiin...

    ReplyDelete
  7. Mau dong informasi tentang beasiswanya kak.. ditunggu di postingan berikutnya ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah saya posting kalo saya punya infonya ya ๐Ÿ˜Š

      Delete
  8. Saya gak punya kemampuan bahasa asing yang baik. Dan merasa sangat sulit mempelajarinya. Tapi punya keinginan 'aneh' untuk merasakan hidup jadi TKW di negeri orang. Bukan karena uangnya sih, tapi ingin tahu saja bagaimana kehidupan TKW sesungguhnya. Beraninya paling ke Malaysia. Karena bahasanya masih mirip dengan Indonesia. Ini keinginan yang benar2 aneh. Gak usah dicontoh wkkkk.

    Sepupu ada yang kuliah di jerman. Dia bawa anak dan istrinya juga. Dapat beasiswa. Tapi kurang tahu beasiswa apa. Selalu salut sama yang pinter bahasa asing.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keinginan yang 'aneh' ๐Ÿ˜‚ tapi masih mending, saya malah pengen ngerasain ngunjungin bulan dong ๐Ÿคฃ

      Delete
  9. Sharingnya bagus banget. Ini bisa saya share ke anak saya yang sekarang duduk di bangku kelas X. Jadi kalo mau mewujudkan cita-cita ya harus memantaskan diri untuk meraih cita-cita tersebut. Btw ini juga inspiratif banget, yaitu hidup disana dulu untuk menguasai bahasanya baru kemudian mendaftar kuliah. Kerennn!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga bisa bermanfaat buat adik-adik yang masih pada sekolah. Ada banyak jalan menuju cita-cita :)

      Delete
  10. Wah paten nih infonya, 3 tahun lagi anakku menjelang kuliah, semoga punya kesempatan belajar di luar negeri juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin ๐Ÿ˜Š insya Allah ada jalan ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

      Delete
  11. wah mbak alvi masih muda (kaya saya) wkwk. jadi di jerman udah brp lama mbak? semoga dimudahkan dan dilancarkan ya studinya, insyAllah apa yang mbak share bermanfaat buat yang mau belajar ke jerman.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya baru mau dua tahun di sini mbak shafira.
      Iya, semoga bermanfaat :)

      Delete
  12. Wah menarik ya program Au Pair. Kalau keluarganya baik dan mau membiayai kita, saya rasa ladang amalnya gede banget mereka (kalau istilah Islamnya). Jerman peraturannya high standard tapi untuk warganya juga. Alhamdulillah, pengetahuan baru. Makasih mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Standar tinggi mereka mencakup hampir semua aspek ๐Ÿ˜ƒ

      Delete
  13. Menarik sekali mbak.... rasanya ingin memutar waktu, tapi tak mampu. Jauh dari anak2 1 kota aja sudah mewek. Apalagi sekolah luar negeri. Semoga anak2ku bisa mengikuti jejak mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Semoga bisa menimba ilmu ke mana pun mereka mau...

      Delete
  14. Saya tunggu postingan berikutnya Mbak..menarik sekali ini, karena saya berencana anak bisa kuliah ke luar negeri, mungkin ke Jerman. Kalau suami saya dulu beasiswa MBA ke Amerika saat sudah bekerja jadi tesnya yang berlapis, tapi untuk di sana dicover dan Alhamdulillah cukup.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo untuk beasiswa ke Jerman biasanya untuk S2 dan S3, terutama kalau daftarnya dari Indonesia. Kalau untuk S1 ga banyak, tapi ada sih, harus jeli nyari info nya.
      Soalnya emang pada dasarnya biaya kuliah S1, S2, maupun S3 di Jerman memang murah banget sih.

      Delete
  15. Umformasi yang sanga bermanfaat mba. Referensi apabila kelak anakkupun ingin melanjukan kuliah keluar negeri.

    ReplyDelete
  16. Masya Allah menarik sekali ceritanya Mba. Banyak cara ya yang bisa dilakukan supaya bisa kuliah di jerman. Ditunggu cerita selanjutnya Mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bab-bab yang selanjutnya udah mulai saya upload mbak titik ๐Ÿ˜Š

      Delete
  17. serunya... jd termotivasi utk kuliah s2 nih

    ReplyDelete
  18. Wih hebat mbak Alvianti, jadi semakin semangat deh untuk mengambil beasiswa dengan mempersiapkan diri terlebih dahulu. Apalagi beasiswa keluar negeri, bahasanya ya perlu digembleng dulu:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul...
      bahasa itu alat tukar isi kepala ๐Ÿ˜„

      Delete
  19. Menarik nih, mbak. Aku kasih tahu ke keponakan yang pengen kuliah di Jerman. Makasih, mbak.

    ReplyDelete
  20. Artikelnya sangat bermnfaat mbak
    Membantu yg ingin kuliah di luar negeri
    Ceritanya juga inspiratif

    ReplyDelete
  21. Wah baru tahu tentang au pair ini. Dia ada seleksi juga nggak biar bisa terpilih ikutan. Aku jadi ingat nih buku almarhum B. J. Habibie saat sekolah di Jerman. Katanya bahasa jerman itu termasuk yang paling susah dipelajari

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak ada mbak antung, cuma tinggal cari host family terus nego ini itu.

      Bahasa apa pun kalo sering dilatih, nanti jadi mahir sendiri kok. Bahasa yg paling susah itu bahasa Arab, tapi tetep banyak orang yang bisa kan ๐Ÿ˜

      Delete