Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Ramadan Tahun Ini di Jerman - Mengantuk di Kelas



Halli Hallo

apa kabar semuanya? Saya mau update tentang Ramadan di Jerman tahun ini nih. Ini adalah Ramadan kedua saya di Jerman. Sila disimak... 
 
Bagaimana ceritanya? Begini ceritanya...
 
Tahun lalu, puasa berlangsung lebih lama dari tahun ini, bisa sampai pukul setengah 10 malam lho! 😂. Kok bisa berbeda durasi waktunya dengan tahun ini? Tentu saja, karena kalender Hijriyah berbeda 10 hari (354/355) dibandingkan dengan kalender masehi (365/366). Hal ini menyababkan puasa tahun ini dimulai lebih dini, yaitu akhir April, sementara puasa tahun lalu baru dimulai pada awal Mei. Semakin awal puasa dimulai pada suatu tahun, semakin menipislah durasinya. 

Baca juga: Salam, dari Schwäbisch Hall (tentang hangatnya warga Muslim Schwäbisch Hall)

Pada tahun depan dan tahun-tahun berikutnya, durasi puasa akan menjadi lebih pendek lagi, sebab awal puasa akan semakin mendekat pada musim dingin. Pada musim dingin, imsak baru tiba hampir pukul setengah 7 pagi dan maghrib pukul 4.30 sore! Super pendek, bukan? Allah memang Mahaadil, kami yang berada di negeri subtropis ini tidak akan selamanya puasa dengan durasi belasan jam. 

Lalu, bagaimana kabar puasa saya tahun ini? Pada 10 hari pertama Ramadan kemarin saya berhasil menikmati puasa tanpa ada aktivitas di luar rumah. Waktu itu sekolah masih libur, semua tugas sekolah juga sudah selesai dikerjakan dan dikirim balik kepada semua dosen. Damai rasanya. 

Puasa hari pertama dimulai dengan imsak pada pukul 4.35 dan maghrib pukul 20.33. Puasa berlangsung selama sekitar 16 jam. Saya sudah terbiasa dengan durasi puasa yang panjang, karena tahun sebelumnya saya sudah merasakan Ramadan di Jerman juga. 

Masalah utama saya pada puasa tahun lalu adalah: jam tidur yang menyusut signifikan karena 'isya baru tiba pukul setengah 11 malam dan shalat tarawih selesai pada pukul setengah 12 malam. Lalu saya harus sudah bangun lagi untuk sahur pada pukul 3 pagi. Setiap malam saya hanya sempat tertidur selama 2 - 3 jam saja. Mata saya terasa perih setiap kali setiap kali saya bangun. 


Tahun ini, dikarenakan corona yang masih merebak, shalat lima waktu di masjid ditiadakan, apalagi shalat tarawih! Sayang sekali… tetapi kontak antarorang memang sedang harus dibatasi saat ini. Saya berpikir, ada nilai positif yang bisa diambil, yaitu waktu tarawih yang bisa lebih efisien tanpa perjalanan pulang pergi dari rumah ke masjid. Itu bagus, kan? 

Satu hari sebelum Ramadan, dalam pengajian online, Ustadz kami mengajak kami - murid-muridnya - untuk tetap mengaji seperti biasa setelah shalat maghrib. Tahun lalu kami tidak mengaji setelah shalat maghrib, sebab waktu menuju 'isya terlalu pendek. Dikarenakan tahun ini tidak ada tarawih berjamaah di masid, waktu kami menjadi panjang dan fleksibel. Kami pun setuju atas ajakan Ustadz kami tersayang. Keesokan harinya kami memulai pengajian tepat setelah shalat maghrib dan berbuka. 

Usai mengaji, saya mengerjakan beberapa hal dan tidak terasa sudah pukul setengah 12 malam. Setelah itu barulah rangkaian 'isya dan tarawih saya dimulai. Ternyata, shalat tarawih di rumah tidak membuat waktu saya menjadi lebih hemat. Sering kali, saya baru bisa berangkat ke pulau kapuk sekitar pukul 1 atau bahkan 2 pagi. Ternyata Ramadan tahun ini tidak lebih mudah dari tahun lalu 😂. Hal ini tidak menjadi soal selama 10 hari pertama, sebab sekolah belum dimulai dan saya bisa menebus waktu tidur yang minim itu pada siang hari. 


Sekolah kembali dibuka pada tanggal 4 Mei lalu dan disusul dengan ujian pada hari berikutnya. Alhamdulillaah saya sudah melalui tiga ujian tulis dengan baik, tinggal satu ujian lagi yang belum diujikan. Na ja, masalah tidak terletak pada ujian, melainkan pada kelopak mata saya. Tidur malam yang teramat singkat membuat hari-hari saya menjadi cukup berat. 

Pada beberapa jam pertama perkuliahan, saya masih bisa mengerahkan kekuatan konsentrasi saya. Namun pada beberapa jam sisanya, saya hanya bisa berusaha untuk tetap membuka mata tanpa benar-benar menyerap materi pembelajaran. Kepala saya sering kali tersungkur ke depan, belakang, kanan, dan kiri sepanjang pelajaran. Ketika dosen meminta kami untuk membaca sesuatu, saya membaca kalimat yang sama berulang-ulang tanpa usai dan tanpa paham 😂. Hidup memang kadang terasa sulit bagi seorang sleepy head

Seorang teman saya yang juga muslim, sering kali memperhatikan saya yang dengan rajinnya jatuh tertidur lalu segera terjaga dan berpura-pura tengah membetulkan posisi duduk. Pada suatu waktu saya tertidur pada waktu istirahat yang hanya 10 menit. Dosen saya memanggil nama saya agar saya bangun dan bersiap memulai perkuliahan berikutnya. Dosen tersebut bertanya kepada saya, "Anda lelah?"
Seorang teman muslim saya yang lain menyahut, "kami sedang berpuasa."
Dosen kami lalu menunjukkan wajah simpati sambil berkata, "oh, pasti sulit ya."
Saya segera menimpali dengan sigap, "bukan begitu. Tadi saya merasa bosan, makanya saya mengantuk." Saya tidak mau dosen saya berpikir bahwa produktivitas murid-muridnya yang muslim menurun selama Ramadan. 

Selain cerita mengantuk, masih ada cerita seru lainnya nih. Cek post berikutnya ya 😉: Ramadan dan Corona.

18 comments for "Ramadan Tahun Ini di Jerman - Mengantuk di Kelas"

  1. Saat bulan Ramadan yang sulit itu memang menahan kantuknya. Apalagi kalau sambil kuliah di gitu. Trus abis ditanya gitu reaksi dosennya gimana, Mbak? Ternyata di Jerman meski ada pandemi perkuliahan tetap berjalan seperti biasa ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekolah sama perkuliahan sempet ditutup mbak alfa. Sekarang udah dibuka lagi karena tingkat infeksi corona di sini udah menurun dan terus menurun. Kehidupan di sini udah mulai mendekati normal. Alhamdulillaah 😊

      Saya ga sempet merhatiin ekspresi dosen saya lagi waktu itu, karena berpura-pura siaga tanpa kantuk 🤣

      Delete
  2. Hahaha alhamdulillah akhir'y terlewati juga ya Mba. Tapi, sebagai sesama sleepy head kayak'y nggak puasa juga ttep ngantuk kalo udah masuk ruang kuliah. Wkwkwk..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya sih bener juga. Dari dulu juga saya terkenal ngantukan kalo di kelas, kadang malah tidur betulan. Hadeuuh...

      Delete
  3. Lucu ngebayanginnya hehehe. Fiak benar- benar harus kuat ya selqma menjalani puasa di Jerman. Salut sama semangat Muslim di sana.

    ReplyDelete
  4. Wah gak kebayang betapa uniknya puasa di Jerman. Banyak gak mba muslim di sana? Selain ngantuk godaannya apalagi mbak kalau puasa di Jerman?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak, di sini Muslim nya banyak. Terutama sejak 2015, karena banyak yang mencari suaka dari negara-negara konflik.

      Selain ngantuk, hampir ga ada lagi sih. Soalnya kalo lapar sama haus kerasanya standar kayak puasa di Indo aja

      Delete
  5. Good girl. Kamu ga bilang mengantuk karena puasa. Semnagat mbak alvi selalu seru ngikutin kisahmu di sana ya🤗

    ReplyDelete
  6. masyaallah, meski sulit semoga selalu semangat mba. insyaallah bisa lulus tepat waktu. keren ih bisa kuliah di jerman. dulu saya ikut beasiswanya gak keterima hihi.

    ReplyDelete
  7. Rajinnya ngepost cerita sehari2 di sana ya. Blognya jadi kaya buku harian. Tapi informatif dan bermanfaat buat yang baca. Semoga lancar semua urusan di sana. Dan terus ngeblog dan berbagi cerita.

    ReplyDelete
  8. Masya Allah... memang benar ya katanya bahwa Ramadhan itu bulan menempa diri. Meski durasi puasanya lebih pendek, tapi ternyata masih ada tantangan yang harus dilalui juga,hehehe
    Kayaknya menarik deh Mbak kalo bikin episode tulisan tentang kehidupan muslim di Jerman. Siapa tau kelak bisa dijadikan buku :D

    ReplyDelete
  9. Menarik ya mba, melihat jam puasa dan waktu shalat di Jerman. Semoga Allah ganti perjuangan ibadah puasa mba dengan yang setimpal, aamiin

    ReplyDelete
  10. Bisa kebayang memang ngantuknya kalau tidur hanya sejam dua jam aja. Mana tulang2 kayak dilolosi gitu ya dari badan. Perjuangan yg lumayan berat ya berpuasa di negeri orang.

    ReplyDelete