Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Culture Schock Budaya Jerman - Bagian 3

Pada masa-masa awal saya tinggal di Schwäbisch Hall, saya mendapatkan pengalaman culture schock yang sangat beragam. Sekarang setelah hampir 3 tahun, saya coba kumpulkan lagi pengalaman-pengalaman unik yang tidak pernah saya alami di Indonesia, bahkan tak pernah terbayangkan sama sekali sebelumnya. Check it out


    1. Super market bukan tempat hang out

Mari kita bandingkan dahulu dengan super market di Indonesia. 

Super market di negeri kita: 
Di Indonesia, orang seringkali pergi ke pasar swalayan buat hang out untuk menikmati waktu luang, terutama akhir pekan. Kegiatan semacam ini lumrah dilakukan oleh semua umur dan seluruh kalangan, mulai dari kelompok anak muda, ibu-ibu rempong, sampai keluarga yang sengaja datang serombongan. Mall seringkali dijadikan tempat 'rekreasi'. Bagaimana tidak, bangunan mall yang aduhai besarnya berisi: 1) segala macam kebutuhan sehari-hari, 2) produk-produk branded yang menggoda pengunjung untuk shopping dan menghabiskan uang yang sudah susah payah ditabung; 3) zona bermain anak-anak (mandi bola, kereta-keretaan, dll), kafeteria, café, bakery, toko buku, salon, bioskop, mushola kecil yang nyempil, belum lagi tempat parkir yang luas. Bahkan sering juga ada berbagai event yang membuat suasana semakin meriah, seperti lomba peragaan busana anak-anak, promo dan demo make up, demo memasak, dan tiada habisnya. Udah kaya miniatur kota aja! 😅

Super market di Jerman: 
Di sini, super market isinya hanya barang-barang dan bahan-bahan kebutuhan sehari-hari saja. Selesai. Tidak ada tempat duduk, tidak ada tempat untuk ngobrol-ngobrol dan foto-foto untuk membuat instagram story: "weekend nyantai yu guys, seruput cappuccino dulu di café..." Oleh karena itu, ukurannya pun tidak membuat tercengang sebagaimana Grand Indonesia. Kalau memang mau shopping (tas, sepatu, jam tangan, dll), maka harus pergi ke Einkaufszentrum atau semacam mall-mall yang ada di Indonesia atau mengunjungi pertokoan di pusat kota yang menjual berbagai macam barang dan jasa. 


    2. Ada toko kelontong, tapi gak ada warung
Ada sih toko yang semacam toko kelontong, tapi masih tetap masuk kategori Lebensmittelladen atau toko kebutuhan sehari-hari. Ukurannya pun tidak sebesar super market pada umumnya, kira-kira seukuran mini market di Indonesia. Di antara toko semacam ini misalnya toko-toko kecil (mini market), toko Asia, toko Turki, dan toko Arab. Toko-toko kecil semacam ini sangat penting, sebab mereka menawarkan produk-produk yang tidak dijual oleh 'toko-toko Jerman', terutama produk daging berlabel halal, bumbu, serta rempah-rempah Asia. 

Kalau warung? Nah, kalau itu nggak ada, guys. Saya juga kangen banget belanja ke warung samping rumah: dekat, murah, dan bersahabat 😄.

 
    3. Ada pasar tradisional juga, lho!
Pasar tradisional biasanya diadakan berbeda-beda di setiap kota. Di kota kami, pasar tradional digelar setiap hari rabu dan sabtu, dari pagi-pagi buta hingga tengah hari. Di sini biasanya dijual berbagai produk makanan dan minuman hasil pertanian organik regional, walaupun nggak selalu gitu juga sih. Ada juga penjual yang memasok produknya dari toko grosir.  


    4. Belanja sepekan sekali, gak tiap hari

Dikarenakan tidak ada warung guys, bisa dikatakan tidak ada orang yang berbelanja setiap hari, apalagi 3x sehari setiap kali hendak memasak. Seringkali orang-orang di sini berbelanja satu pekan sekali, terutama hari sabtu. Setiap orang berbondong-bondong mendorong troli besar yang dipenuhi dengan beragam kebutuhan pokok untuk persediaan selama satu pekan. Antrian di kasir menjadi sangaaat panjang. Maklum, hari berikutnya, hari Ahad, semua toko tutup, termasuk kafe, restoran, dan toko kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu, hari Ahad adalah hari yang sepi. Pusat kota justru selalu lebih lengang pada hari Ahad, jauh dari hiruk pikuk weekday

    5. Tidak disediakan kantong belanja
Kalau kalian hendak berbelanja kebutuhan sehari-hari, jangan lupa untuk membawa kantong belanja sendiri dari rumah ya! Kantong plastik memang bisa didapatkan cuma-cuma, tetapi mereka hanya menyediakan kantong plastik super tipis yang mudah sobek! Kantong ini disediakan memang hanya untuk sekedar membungkus sebagian produk yang dikhawatirkan 'bocor' atau rusak, buah pisang misalnya. Kantong plastik tipis ini tidak akan bisa kalian andalkan untuk membawa belanjaan kalian yang banyak dan berat. Kasir menawarkan kantong belanja yang awet dan layak, tetapi tidak gratis. Jadi, daripada mengumpulkan kantong belanja berbayar setiap kali grocery shopping, lebih baik bawa keranjang atau kantong belanja sendiri dari rumah ya! 


    6. Orang Jerman juga makan nasi
Orang Jerman ternyata tidak asing dengan nasi, lho. Nasi adalah salah satu makanan pokok yang juga dikonsumsi orang Jerman. Mereka memang tidak mengonsumsi nasi pada setiap waktu makan, namun mereka memang memiliki hidangan-hidangan tertentu yang disajikan dengan nasi. Bahkan sampai sekarang, hanya ada satu orang Jerman saja yang saya kenal yang tidak 'menyukai' nasi. 
 
Meskipun saya bilang mereka juga makan nasi, tapi jangan bayangkan porsi nasi orang Indonesia ya. Porsi nasi mereka sangat sedikit, seperti porsi untuk anak-anak 😂 bukan sepiring nasi putih yang mengepul dan menggunung hehe. Juga, mereka sangat kaget ketika saya ceritakan, bahwa orang Indonesia mengonsumsi nasi setiap hari, di setiap waktu makan, termasuk untuk sarapan! Rekan-rekan bule saya syok luar biasa. "Setiap hari? Bahkan untuk sarapan juga? Apa kalian tidak bosan?"


    7. Produk pedas
Jika kalian menemukan produk apa pun yang bertuliskan scharf (pedas) atau sehr scharf (sangat pedas), jangan pernah percaya! Rasanya tidak pedas sama sekali, level pedasnya lebih rendah dari sesendok teh bubuk cabe mie instan. Lupakan saja. Kalau kalian ingin mencari produk pedas sesuai selera kita, sebaiknya kalian coba cari di toko asia, kalian akan lebih beruntung. 


    8. Blak-blakan 
Orang Jerman terkenal straightforward atau blak-blakan tanpa pandang bulu. Jika seorang kolega, apalagi bos, hendak mengoreksi kita, mereka tidak akan menggunakan majas indah berwarna-warni. Mereka akan langsung berkata to the point, yang mana yang salah/keliru itu. 

Contoh pengalaman secara langsung: 
Seorang teman sekelas saya tidak mengerjakan tugas yang telah diberikan oleh dosen kami. Teman saya ini adalah seorang ibu rumah tangga dan umurnya kemungkinan besar lebih tua dari dosen kami. Pada hari yang bersejarah itu, tepat di depan semua orang, dosen kami memarahi teman saya yang malang ini. Kata-katanya pedas luar biasa. Hanya di sinilah kalian bisa menemukan cita rasa pedas di Jerman. Dosen kami berkata, "mengapa Anda tidak mengerjakan tugas yang saya berikan? Saya 'kan sudah bilang, tolong kerjakan di rumah. Tugas sekolah ini juga bagian dari program pendidikan Anda, itu termasuk jam kerja juga. Maka dari itu harus Anda kerjakan. Anda dibayar di sini. Anda mendapatkan uang dengan Anda berada di sini, meskipun Anda sedang tidak berada di tempat magang." 
 
Kawan saya yang dimarahi, saya pula yang ikutan kasihan dan malu. 


    9. Suka rasa asam
Rasa pedas tidak cocok bagi lidah kebanyakan orang Jerman. Salah satu rasa yang sangat mereka sukai adalah rasa asam. Iya, guys, asem! Di sini, segala jenis buah-buahan yang rasanya asam selalu diminati. Apel yang asam mereka katakan: ''ini manis kok, hmm enak!'' Ketika saya coba, saya cuma bisa merem! Apalagi jeruk sunkist dan lemon, belum lagi buah kiwi asam, anggur asam, dan ceri asyem. Aduh, saya nggak bisa buka mata rasanya! Asyem bangettt... Kalau di Indonesia: kalau nggak manis, ya nggak laris! Kecuali buat ibu-ibu hamil yang sedang ngidam mangga muda. 

Mereka juga sangat menyukai kue-kue dengan topping buah yang asam, pakai buah plum yang asam misalnya. Aduh, udah deh, makan kue berubah menjadi goyang-goyang alis! Untungnya, buah-buahan yang saya sebut di atas ada versi manisnya, guys, terutama selama musim panas. 

plum culture schock
Buah plum dari Couleur di Pixabay 

O iya, kalian tahu Sauerkraut? Nah itu juga salah satu kesukaannya para bule. Sauerkraut adalah kol yang difermentasikan, rasanya asem-asem gak karuan 😂.


    10. Gaji dipotong sangat banyak 😵
Mengapa? Sebab pajak di Jerman sangat sangat sangat tinggi. Belum lagi biaya asuransi setiap bulan: asuransi masa tua, asuransi kesehatan, asuransi perawatan, entah apalagi. 

Tapi... sebetulnya semua itu 'kembali' lagi kepada kita berupa fasilitas dan saran prasarana yang luar biasa. Di antaranya: tata kota yang rapi dan nyaman, taman kota dan tempat bermain anak-anak di berbagai sudut, sistem transportasi yang modern, pendidikan gratis, layanan kesehatan gratis, dan masih banyak lagi. Hanya ada satu hal yang menurut saya mengherankan. Di sini, lampu jalanan sangat redup! Kadang saya sampai harus menyalakan ponsel agar jalanan menjadi sedikit lebih terang. Entah kenapa begitu. 


    11. Pfandautomat (mesin 'penyetor' botol plastik)
Saya rasa, di artikel culture schock sebelumnya saya sudah pernah membahas, bahwa di sini sampah dibuang sesuai jenisnya. Mulai dari sampah organik, sampah plastik, sampah kertas, sampah beling, sampah 'khusus' (seperti batu baterai). Masing-masing jenis sampah ini memiliki tong sampah yang berbeda-beda, tidak boleh disatukan! Jangan pernah! Bisa-bisa Anda bakal kena marah dan denda... Bahkan untuk sampah beling saja, harus dipisahkan sesuai warnanya. Jangan sampai salah buang sampah ya. 
 
Nah, ada lagi yang unik nih: Pfandautomat atau mesin 'penyetor' botol plastik. Mesin ini tersedia di banyak super market. Mesin ini berfungsi untuk menampung botol-botol plastik, sehingga botol-botol plastik bekas ini nantinya bisa didaur ulang. Selain kita ikut 'menyelamatkan lingkungan,' kita juga mendapatkan imbalan dari setiap botol plastik yang kita masukkan lho. Tidak banyak sih, hanya beberapa cent saja, tetapi harga cent ini sebetulnya memang harga botol yang kita bayarkan saat membeli suatu produk minuman. Jika kalian memasukkan botol bekas minuman kalian ke Pfandautomat, maka kalian akan mendapatkan struk pembayaran yang bisa kalian bawa ke kasir untuk ditukarkan dengan uang. Biasanya orang-orang mengumpulkan kemasan botol platik hingga menumpuk, jika sudah sangat banyak, maka botol-botol bekas itu akan dibawa ke super market terdekat dan 'disetorkan'. Kalau botol plastik yang kalian setorkan sangat banyak, 'uang kembalian' yang akan kalian dapatkan juga akan semakin banyak. 

Bagaimana menurut kalian? 

18 comments for "Culture Schock Budaya Jerman - Bagian 3"

  1. Aku pikir awalnya ini salah ketik, karena menulisnya Culture Schock.
    Tapi ternyata bahasa Jerman.
    Jadi kebayang Jerman ini bersiiih gitu yaa...soalnya melihat pemilahan sampah yang benarnya saja uda oke banget.

    Btw,
    Apa Sauerkraut ini mirip kimchi?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sodaraan mereka. Tapi katanya Sauerkraut lebih asem, sementara kimchi lebih asin

      Delete
  2. Pernah dengar potongan pajaknya hingga hampir 50% ya mba? Kalau asuransi di Jerman yang wajib tuh asuransi dari pemerintah atau asuransi swasta?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo untuk penghasilan biasa, gak dipotong sampe separah itu sih, walaupun kalo dibandingkan dengan di Indo itu emang udah termasuk parah 😂

      Denger-denger dari temen yg punya usaha, nah pajak usaha itu yg besarnya terlalu parah. Buka usaha kecil-kecilan di sini kesannya malah gak banyak menguntungkan.

      Kalo asuransi wajib punya, terserah mau pake yang mana, pokoknya harus punya.

      Delete
  3. Wah seruu ya pengalaman selama hidup di Jerman.
    Aku bakal sering main2 ke blog ini deh
    aselik, enjoyy banget bacanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih. Otw main ke blognya mbak nurul juga 😊

      Delete
  4. Kalau di beberapa negara di luar sana kadang malah sore atau malam itu sepi banget ya supermarketnya nggak kayak di sini yang bisa buka 24 jam. Apalagi kalau nggak ada warung gimana kalau misalnya kehabisan barang malam-malam bisa puyeng dong? heu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya di sini toko-toko udah tutup jam 8 malem, sebagian jam 10 malem.

      Kalo keabisan barang ya harus nunggu sampe besok hari nya 🤦‍♀️ tapi biasanya gak terjadi sih, karena hampir tiap belanja pasti borongan 😂

      Delete
  5. Seru Mbak pengalaman di Jerman nya, tapi mungkin aku juga bakalan shock dan harus melakukan banyak adaptasi sana-sini.

    Mungkin terutama, bakalan bawa banyak cabe atau menanam sendiri cabe di rumah, wkwkwk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu juga yang harusnya saya lakukan dari dulu, nanem cabe!

      Delete
  6. Seru banget ceritanya. Saya jadi inget Mbak waktu di Swiss, saya sempet ke daerah namanya Bassel. Di sana berbatasan dengan Jerman, jadi segala macem berbahasa Jerman.

    Nah, saya sama teman saya tu pergi ke sana weekend. H-1 sebelum pulang ke Indonesia. Semua toko bener-bener tutup. Blass nggak ada yang buka, kami mau cari tempat nongkrong kafe2 cantik "facebookable" (dulu belum jaman IG) pun nggak ada.

    Yaudah kami cuma masuk museum yang gratis dan foto2 di sana, di jalanan, di depan toko2nya. Wkwk.

    Sama di kota lain Swiss pun gitu. Weekend itu family time ceunah. Yaampoon, baru tau deh. Padahal kami ya ada waktu senggangnya cuma di weekend kan, kalau hari biasa juga ngampus. Haha.. Culture shock!

    Masalah yang pedes2 itu juga, yaelah level 0 di sana mah ya. Kita kudu bawa sambel sendiri dari Indonesia kalo mau pedes nendang. Wkwk..

    ReplyDelete
  7. Menariiik ... Suka banget membaca atau nonton perbedaan budaya antara negara kita dengan negara lain. Selalu ada yang bikin tercengang. Lebih menarik lagi sih kalau bisa kesana dan merasakan tinggal beberapa waktu gitu. Kalau kelamaan, saya suka kangen cilok soalnya, hahaha ...

    ReplyDelete
  8. tinggal di negara yang punya banyak perbedaan budaya terkadang memang membuat kita mengalami kejutan budaya ya mbak
    tapi ini menjadi pengalaman menarik yang tak terlupakan ya
    btw harus belanja banyak brarti ya, karena pasarnya nggak buka tiap hari

    ReplyDelete
  9. Wiwin | pratiwanggini.netMay 22, 2021 at 2:25 AM

    Kalo baca atau dengar cerita tentang budaya di Eropa seperti di Jerman ini, bikin saya pengin terbang kesana. Penasaran.. lalu berkhayal seandainya disini juga bisa begitu...

    ReplyDelete
  10. Selalu suka sama postingan tentang kehidupan dan budaya di luar negeri. Buka wawasan baru karena pasti ada yang menarik seperti tulisan mbak Alvianti ini. Btw soal pasar mirip kek Brunei, cuma buka di hari-hari tertentu dan tiap "kecamatan" harinya beda-beda.

    ReplyDelete
  11. aku suka banget baca tulisan seperti ini karena bener-bener pengalaman asli dan ga editorial gaya bahasanya. Kebanyakan orang awam bakalan bilang tinggal di luar negeri apalagi di eropa tuh enak tapi kalo udah tau potongan pajaknya pasti gegar budaya juga ya, hehehe. Salam kenal mba

    ReplyDelete